Era globalisasi telah menjamah Indonesia saat era millenium berlangsung yang mengahantarkan berbagai macam paham-paham asing serta budaya-budayanya yang berbeda dengan budaya timur yang kita miliki. Keaneka ragaman budaya Indonesia menjadi kebanggaan tersendiri bagi identitas nusantara di dunia Internasional. Hal ini membuat banyak wisatawan asing yang berduyun-duyun datang ke Indonesia untuk menyaksikan berbagai macam budaya nusantara.
Heterogen yang dimiliki Indonesia membuat paham primordialisme berkembang di masing-masing daerah, akibatnya daerah yang memiliki primordialisme ini mencari daerah pasaran baru dalam mengembangkan budaya lokal masing-masing. Primordialisme adalah suatu paham yang menonjolkan daerah masing-masing.contoh kongkritnya seperti masakan padang yang telah tersebar luas keseluruh Indoensia, di setiap sudut kota seluruh Indonesia terdapat rumah makan atau restoran padang. Memang bagus memperkenalkan budaya sendiri kepada daerah lain, tetapi hal ini membuat budaya lokal daerah yang didatangi seakan-akan tenggelam. Tetapi khasanah budaya tidak akan pernah hilang didalam tubuh etnis lokal, mereka akan selalu mencintai budaya sendiri walupun tidak setiap orang demikian. Etnis lokal yang menganggap budaya asing atau daerah lain lebih bagus dari budayanya sendiri akan mengancam eksistensi budaya lokal sendiri. Tidak sedikit di Banjarmasin budaya-budaya asing atau daerah lain masuk dan berkembangbiak serta diterima oleh masyarakat Banjar. Akibatnya budaya sendiri terlupakan bahkan budaya sendiri dianggap kuno dan korang menarik. Logikanya bahwa urang banjar memang lebih menyenangi sesuatu yang baru, menarik dan unik. Karena budaya sendiri sudah biasa maka masyrakat Banjar memerlukan angin segar yang baru dan fresh, hasilnya Banjarmasin dijadikan sebagai lahan strategis pengembangan dan penyebaran budaya dari daerah lain, seperti budaya yang dari Sumatera Barat dan pulau Jawa. Hal ini terlihat dari banyaknya etnis urban yang kebnyakan memang dari pulau seberang yang membuka usaha khas dari daerah mereka masing-masing. Ditakutkan nantinya generasi muda Banjar lebih mengenal rendang dari pada masak habang, atau lebih mengenal nasi gudeg dari pada nasi kuning.
Daerah lain memang dapat kita maklumi karena memang Indonesia ini memiliki perbedaaan etnis, budaya dan bahasa yang berlainan. Tetapi keadaan ini diperparah dengan budaya asing luar negara yang masuk ke Banjarmasin. Masyrakat Banjar lebih senag dengan Fast Food dari pada masakan khas lokal sendiri, padahal dalam kompetisi harga masakan lokal lebih mudah dicapai oleh masyarakat umum dari pada masakan Fast Food. Berbaga usaha dilakukan oleh masyarakat dalam mempertahankan masakan-masakan lokal milik kita ini, contohnya seperti adanya warung 41 di daerah Cempaka yang menyuguhkan wadai 41 macam khas Banjar, konon katanya wadai yang di jual disini adalah wadai makanan raja-raja Banjar pada jaman dahulu.
Pengekspansian budaya asing diperparah dengan adanya media yang beredar pada masyarakat umum, pada jaman dahulu masyarakat Banjar memiliki berbagai macam seni hiburan seperti mamanda, bajapin, wayang gung, bapantul, bagandut, musik panting dan lain-lain. Era sekarang memang era globalisasi, tetapi tentunya tidak salah kita sebagai masyrakat asli Banjar mengenyampingkan budaya asing dan mendahulukan budaya lokal sendiri agar dapat terpelihara dengan utuh. Para generasi muda banjar lebih suka musik gitar dari pada musik panting, lebih suka Film dari pada mamanda.
Mencermati hal diatas pemerintah besarta masyarakat Indonesia senantiasa menjaga dan melestarikan budaya asli kita untuk generasi yang akan datang, agar anak cucu kita nanti tidak hanya mendapat pengetahuan budaya dari oral tradition yang di tuturkan oleh orang-orang yang tahu akan budaya kita. Sekiranya mampu untuk dilestarikan, maka budaya kita perlu di berikan kepada generasi muda bahkan sedini mungkin budaya kita harus di tularkan. Lembaga formal merupakan media yang strategis dalam mematenkan budaya kita dalam mentalitas generasi muda, untuk itu eksistensi muatan lokal di sekolah-sekolah memiliki posisi tersendiri dalam pengembangan budaya lokal. Selain itu pula pemerintah daerah juga senantiasa perlu menggelar berbagai macam perlombaan budaya Banjar yang digelar di tempat-tempat favorit masyarakat, budaya Banjar biasanya hanya sering ditampilkan di Taman Budaya Banjarmasin, seperti di Duta Mall yang biasanya menampilkan pertunjukkan para artis-artis. Pernah dalam suatu kuliah Drs. Hairiyadi. M.Hum menyampaikan idenya kepada para mahasiswanya, bahwa Kalimantan Selatan dalam melestarikan budayanya perlu membangun suatu perkampungan tempo dulu (Kampung Banjar), yang didalamnya hanya terdapat masyarakat etnis Banjar dengan rumah-rumah panggung khas Banjar tentunya, selain itu panganan yang di jual atau di konsumsi di sana hanya panganan khas Banjar, di dalam kampung itu juga digelar setiap minggu hiburan-hiburan tradisional Banjar. Dengan demikian tidak hanya melestarikan budaya lokal Banjar, tetapi juga bisa menarik wisatawan-wisatawan asing untuk berkunjung ke perkampungan tersebut.
Memang apabila kita sudah terbiasa dengan budaya lokal yang kita pakai sehari-hari kita akan mengalami kebosanan, selama kita menganggap budaya itu masih penting dalam kehidupan sehari-hari maka budya itu akan terus bertahan. boleh saja kita menghargai atau memuji budaya asing yang masuk, tetapi jangan sampai lupa dengan budaya kita urang banjar. Walaupun sekarang adalah era globalisasi tetapi kita jangan sampai kehilangan jati diri daerah kita sendiri. Progres memang baik bagi budaya kita, untuk itu kita perlu memanage kadar budaya asing yang masuk walau pun itu cukup sulit kita lakukan.
